![]() |
| Jokowi, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan Gus Karim |
Kiai yang akrab disapa Gus Karim itu bercerita, ketika Jokowi hendak mencalonkan diri menjadi menjadi presiden, beberapa bulan silam, sebelum pengambilan nomor urut, Jokowi lewat layanan pesan short messages service (SMS) tentang wiridan apa yang perlu dibaca.
“Gus, apakah wiridan saat mencalonkan jadi Walikota itu perlu dibaca? Saya jawab, ya perlu dibaca
wiridan itu,” kata
Gus Karim yang pernah menjadi ketua tanfidziyah PCNU Kota Surakarta. Namun, Gus Karim tidak menyebut wirid apa yang
diijazahkannya ke Jokowi.
Pengasuh Majelis Dzikir dan Shoalwat Jamuro itu juga memiliki panggilan tersendiri kepada Jokowi. “Dari dulu saya memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Wali’. Bahkan, ketika sudah menjadi Gubernur. Tapi ndak tahu kalau sudah jadi presiden sekarang,” katanya sembari terkekeh.
Kata Gus Karim, Jokowi itu punya tiga nama panggilan, “Pertama yoqowiyu, ini panggilan dari mereka yang terlalu mengidolakan. Adapula yang memanggilnya dengan biasa Jokowi, seperti saya. Lain lagi dengan yang tidak senang, memanggilnya dengan jo kui (jangan yang itu).”
Menurut Gus Karim, Jokowi ikut andil membesarkan jamaah Sholawat Jamaah Muji Rosul (Jamuro) di Solo.
“Saat Jokowi naik, mulai saat itulah Jamuro naik. Akhirnya kami pun meminta Jokowi untuk menjadi penasihat Jamuro.”
Peningkatan jamaah Jamuro terjadi usai mereka melakukan kegiatan di rumah dinas Walikota Solo di Lodji Gandrung,
“Sebelum Pak Wali, ehh Pak Presiden ngunduh Jamuro di Lodji Gandrung jamaah hanya 200an orang. Alhamdulillah sekarang jamaah mencapai 3.000 orang setiap Jamuro mengadakan pengajian,” ucapnya. (red/sww)





