Berita9 - Majlis Rasulullah dan Front Pembela Islam itu mempunyai dua karakter yang sangat berbeda. Ranah perjuangannya memang berbeda. Meminjam bahasanya Habib Rizieq, MR itu tugasnyaa menanam dan bercocok, sedang FPI tukang jagain tikusnya.
Bagaimana FPI menjadi tikus perusak tanaman, adalah seperti yang telah diketahui. Sudah terlalu banyak media memberitakannya. Bahkan seringkali berlebihan.
Nah, kalau Majlis Rasululullah? Majlis yang didirikan oleh Al Marhum Habib Munzhir Al Musawa ini tidak pernah bermasalah dengan polisi. Tidak pernah bermasalah dengan pemerintah daerah atau pusat. Selama ini. Mereka hanya menggelar dzikir dan maulid bersama. Diselingin juga tabligh dan ta'lim yang murni seruan agama. Tidak ada muatan politik dan apalagi menyoal pemerintah.
Selama ini MR selalu mudah mendapatkan ijin dari setiap kegiatannya. Majlis inilah yang menghadirkan banyak ulama panutan dunia untuk datang ke Indonesia, seperti Habib Umar bih Hafizh dan Habib Ali Al Jufri. Dan pada suatu kegiatannya di Monas, Presiden SBY pernah hadir. Damai! Teduh yang dirasakan SBY. Khusyuk dalam munajat kepada Allah bersama alunan shalawat yang dikumandangkan Habib Munzhir dan jamaahnya.
Yah, zaman SBY jadi presiden, Fauzi Bowo jadi gubernur, Majlis Rasulullah memang mendapatkan tempat khusus. Tapi kini gubernur DKI siapa, Presiden RI siapa. Bukan SBY, bukan Foke lagi. Jadi, untuk sekedar mendapatkan berdzikir dan baca maulid di Monas, mereka sekarang harus ekstra gigih. Harus ketemu gubernur langsung! Itupun tidak ada jaminan memperoleh ijin yang diinginkan.
Jadi, kalau menganggap Gubernur DKI itu memusuhi FPI karena FPI anarkis, itu karena Anda terlalu husnuzhzhan pada Ahok. Saya tidak akan menyoal Anda untuk berbaiksangka kepada siapapun. Bahkan kepada orang yang membunuh ibu Anda di hadapan Anda, silakan saja berbaiksangka. Tidak dilarang! Tapi, tolong jangan soal sikap saya, prasangka saya, bahwa Ahok sebenarnya tidak lebih adalah satu di antara rangkaian rantai yang diputar untuk menggergaji Islam supaya asing di tengah kemayoritasannya.
Selama ini, dengan arogansi Ahok. Dengan cacian dan umpatannya. Dengan berbagai larangannya. Saya berusaha menahan diri untuk tidak menyerang Ahok. Walau jujur harus saya katakan, sesak dada saya. Gerimis mata saya. Semata-mata untuk menghormati pilihan rakyat DKI yang telah memilih Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.




