“Program kerjasama antara Kementerian Agama RI dengan UICCI sangatlah tepat. Dikatakan tepat karena kedua Negara Turki dan Indonesia adalah 2 negara besar Islam yang diharapkan dapat mewarnai peradaban dunia dengan misi Islam yang rahmatan lil’alamin.” Demikian dikatakan KH. Masdar F. Masudi dalam menyatakan rasa bangganya dan mengapresiasi program ini dimana ia didaulat untuk memberikan wejangan kepada Santri Beasiswa Tahfidz al-Quran ke Turki di Hotel Acacia Jakarta (19/07/2013)
Masdar menengarai sekarang ini pelaku peradaban dunia ditentukan oleh Empat Blok Besar, yaitu: Pertama, Blok Kristiani terutama diikuti oleh negara-negara Eropa dan Amerika. Kedua, Blok Budha dan rumpunnya yaitu negara-negara China dan Indo China; Ketiga, Blok Hindu, yang diikuti oleh India dan Keempat, Blok Islam yang diikuti oleh Negara-negara Islam, bangsa-bangsa dari Maroko sampai Merauke Indonesia. Keempat blok tersebut merupakan pelaku atau aktor penentu peradaban dunia.
Lebih lanjut, santri alm. KH. Ali Ma’shum Pondok Pesantren Al Munawwir ini mengatakan bahwa keempat blok peradaban tersebut telah berumur ribuan tahun karena peradaban yang dipimpin dengan pendekatan religi atau spiritual akan berumur panjang. Sementara Nazizme hanya berumur 5 tahun dan Komunis memimpin selama 60 tahun, hanya berumur singkat, karena tidak berdasar pada religiusitas. Oleh karenanya bagi saya saat ini adalah eranya agama menjadi penting.
Namun sayangnya Blok Peradaban Islam saat ini dirasa masih lemah karena dilanda perpecahan dan pertikaian yang tak habis-habisnya, di samping itu belum ada perekat imam yang ditaati. Sementara Kristen mempunyai imam yaitu Amerika. Buda dengan China dan Hindu dengan India. Sementara Islam belum mempunyai imam yang menjadi pemersatu dan perekat peradaban agar menjadi stabil. Nah dalam situasi seperti ini, saya memandang langkah anda semua yang ingin pergi jauh menempa diri ke negeri Turki amat tepat untuk mengatasi kelemahan demi kelemahan tersebut.
Diharapkan anda akan menjadi imam, pemimpin yang akan dapat memimpin dunia Islam agar mempunyai wawasan yang global. Makanya anda semua harus bercita-cita tinggi menjulang ke langit. Harus berambisi besar untuk mewujudkan Islam sebagai penjamin kerahmatan semesta. “Kita tidak bisa lepas dari orang lain tetapi kita jangan terlau sibuk mengurusi orang lain sehingga waktu kita habis” demikian tandasnya ketika menyikapi konflik dan silang pendapat yang saling menyalahkan dikalangan umat Islam.
Para santri, menurut jebolan Fakultas Syari’ah UIN (dulu IAIN) Sunan Kalijaga, harus menjadi pemenang dalam konteks global. Kemenangan ada tiga cara yaitu: Pertama, Kemenangan Fisik yatu kemenangan yang dengan cara mengalahkan pihak lain dengan kekuatan fisik, senjata dan kekuatan tubuh. Kemennagan ini adalah jenis kemenangan yang paling lemah karena si musuh akan selalu balas dendam turun temurun; Kedua, Kemenagan nalar atau argument. Maksudnya adalah kemenangan yang didasarkan pada kekuatan akal dan argument-argumen untuk mengalahkan pihak lain. Namun yang kalah akan mencari argument dan pembenar kepada pihak lain sampai mengalahkan argument kita. Ketiga, kemenagan hati, keluhuran budi atau akhlak. Inilah kemenangan sejati dan dia akan menyerah lahir batin.
Sementara itu pihak UICCI (UICCI-United Islamic Cultural Centre of Indonesia-Turkey) yang diwakili Farhat Bas mengatakan bahwa : “kita mempunyai paham yang sama dengan Indonesia dalam menciptakan keberagamaan Islam yang toleran dan damai, yaitu Islam rahmatan lilalamin”. Pada awalnya Turki akan membangun sekolah di Indonesia akan tetapi kami lihat Indonesia sudah banyak sekolah makanya dibuatlah pondok pesantren tahfidz melalui Program Beasiswa Tahfidz.
“Alhamdulillah sampai saat ini kita Yayasan UICCI telah memiliki 4.000-an pesantren Sulaimaniah di Turki dan Cabang Sulaimaniah di 110 negara termasuk Indonesia untuk membekali para santri Tahfidz al-Quran” papar warga Negara Turki yang telah menetap 8 tahun di Indonesia. (Ruchman Basori)
Santri Harus Menjadi Pemenang Dalam Konteks Global
Posted on :
2/04/2014 07:47:00 AM
Label:
Wawancara


